Sabtu, 07 Februari 2026

Legenda Batu Menangis’ dan Pesan Moralnya

 

Legenda Batu Menangis’ dan Pesan Moralnya

Pada zaman dahulu di sebuah bukit yang jauh dari pedesaan, ada seorang ibu yang hanya tinggal bersama satu anak perempuannya. Paras wajah anak ini sangatlah cantik jelita dan ibunya selalu membanggakan dan memuji kecantikan anaknya. Namun, meski anaknya cantik dan terlihat sempurna, anak ini adalah anak yang pemalas dan tidak pernah mau membantu ibunya bekerja. Ditambah lagi, ia juga sangat manja, semua keinginannya harus dikabulkan. Padahal, mereka hidup di dalam kemiskinan dan ibunya harus bekerja keras untuk mengabulkan segala keinginannya.

Lalu, di suatu hari, sang ibu mengajak anaknya pergi berbelanja ke pasar. Jarak pasar dan rumahnya sangatlah jauh. Di sepanjang perjalanan, ada banyak sekali orang yang terpesona dengan kecantikan sang anak, ia juga memakai baju yang cantik dan terlihat mahal, sedangkan ibunya—yang berjalan di belakangnya memakai baju lusuh yang kotor, seperti seorang pesuruh.

Karena letak rumah mereka yang sangat jauh dari masyarakat, kehidupan mereka tidak diketauhi orang-orang di sana. Saat mereka memasuki desa, semua orang terpesona pada sang anak, ada banyak sekali pemuda yang menghampirinya untuk menatap wajahnya. Namun, mereka sangat penasaran pada siapa wanita tua yang ada di belakangnya itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa wanita tua di belakangmu itu? Apakah itu ibumu?” Tanya seorang pemuda. “Tentu saja bukan. Dia adalah pesuruh,” jawab sang anak dengan sombong.

Setiap ada yang bertanya pada sang anak, ia selalu menjawabnya seperti itu. Pada awalnya, sang ibu masih bisa menahan diri. Namun, karena hal ini terjadi berulang-ulang, akhirnya hal ini menyakiti hatinya dan ia pun berhenti sejenak dan duduk. Ia meneteskan air matanya.

“Ibu kenapa? Ayo lanjutkan perjalanan!” Bentak sang anak pada ibunya. Sang anak bertanya beberapa kali tapi ibunya tidak memberikan jawaban sama sekali. Sang ibu justru mengangkat tangannya ke atas seraya berdoa. “Ya Tuhan, ampunilah hambamu yang lemah ini, maafkan hambamu yang tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, sehingga ia tumbuh menjadi anak yang angkuh! Mohon hukumlah anakku yang durhaka ini,” ucap sang ibu sambil meneteskan air mata.

Tiba-tiba, langit menjadi mendung dan gelap, petir menyambar dan hujan pun turun. Perlahan-lahan, tubuh anaknya berubah menjadi batu. Kakinya menjadi kaku dan berubah menjadi batu, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Anak ini memohon pada ibunya untuk mengampuninya dan menghentikan semuanya tapi sang ibu hanya menangis karena ia sudah merasa sakit hati.

Sang anak terus memohon. Namun, semuanya sudah terlambat. Sebelum kepalanya berubah menjadi batu, ia menangis dan menyesali perbuatannya. Sang ibu masih melihat air matanya keluar. Semua orang di desa menyaksikkan peristiwa tersebut. Saat sudah menjadi batu, kedua mata anak masih meneteskan air mata seperti sedang menangis dan masyarakat sekitar menyebutnya Batu Menangis.

Pesan moral yang bisa kita dapatkan dari kisah ini adalah kita tidak boleh menyakiti hati orang tua kita. Kita harus selalu menghormati dan menyayangi mereka, karena doa dari orang tua adalah salah satu hal yang paling didengar oleh Tuhan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BEBERAPA DALIL TENTANG PUASA RAMADAN

  A.     BERIKUT BEBERAPA DALIL TENTANG PUASA RAMADAN:     #Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang berim...